Selama bulan puasa, sekian banyak aktivitas positif yang kita lakukan. Sekian banyak pula kebiasaan lama yang kita tinggalkan. Kesadaran akan kesalahan dan dosa pun telah kita ‘bisikan’ kepada Allah, diserta dengan tekad untuk tidak mengulanginya. Itu semua dalam rangka menyucikan dan mengembangkan daya-daya positif kita sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya.
Banyak pelajaran yang kita raih dari Ramadhan. Ia telah mengajar kita dan kita pun telah buktikan, bahwa apa yang pada mulanya terasa berat, dari hari ke hari semakin ringan dan ringan, hingga tak lagi terasa berat.
Melalui puasa juga kita buktikan nafsu bagaikan bayi. Memang pada mulanya ia meronta ketika akan disapih, tetapi jika ibu berkeras, pada akhirnya sang bayi menerima lalu melupakan tuntunannya.
Puasa juga membuktikan bahwa jiwa kita setelah berhasil menahan tuntutan nafsu-jiwa kita itu-memperoleh kenikmatan ruhani yang amat menyenangkan melebihi kesenangan dan kenikmatan jasmani. Memang demikian itulah jiwa manusia sehingga anak-anak dibawah umur pun merasakannya, sampai-sampai tidak jarang mereka tetap berkeras untuk berpuasa kendati ibu bapaknya melarang.
Selama Ramadhan kita merasa telah menemukan kembali fitrah kita yang merupakan potensi spiritualitas yang dapat mengantar manusia menyadari kesalahannya dan mengakuinya serta mendorongnya berhubungan dengan Zat Yang Maha Tinggi itu.
Kegiatan positif yang selama ini kita lakukan, bahkan fitrah yang kita temukan kembali itu harus diasah dan diasuh serta dikembangkan agar tidak mereduksi kemanusiaanya dan tidak menyia-nyiakan potensinya.
Janga mengeluhkan buruknya lingkungan atau menjadikannya dalih. Tetapi ciptakan lingkungan baru yang sehat. Baca dan tontonlah yang bermanfaat. Pilihlah teman sejawat yang mau menegur, dan membimbing. Tinggalkan keburukan dan tingkatkan amal serta pengabdian. Tidak harus yang besar, yang kecilpun jadilah. Berpagi-pagi Rasul Saw mengajarkan bahwa sedikit tetapi bersinambung lebih disukai Allah, dari pada banyak hanya sesekali. Tidak usah amalan sunah yang sulit. Menyingkirkan secuil sampah, bersedekah sebiji buah, bahkan senyum pun jadilah. Sebarkan salam/kedamaian kepada yang dikenal dan tidak dikenal. Ucapkan Subhanallah saat anda menemukan keindahan, Alhamdulillah saat merasakan nikmat, Allahu Akbar ketika bertemu dengan kebesaran Allah, demikian seterusnya. Islam tidak menuntut banyak, bahkan tidak membebani yang berat. Karena memang Allah swt tidak menghendaki sedikit kesulitan pun bagi hamba-hambanya bahkan sebaliknya menghendaki kemudahan [QS 2:185 dan QS 5:6]. Rasul Saw pun berkali-kali mengingatkan perlunya berkualitas ketimbang yang berat.
Itu sedikit dari banyak kiat yang dapat kita lakukan mempertahan dan meningkatkan kualitas pribadi kita dan menjadikan taubat kita di bulan Ramadhan itu merupakan Taubatan Nashuha. Pernahkan anda tahu ada susu yang telah kembali ke tempatnya sebelum diperah? Tidak bukan? Demikian itulah dosa yang telah dikerjakan, tidak akan terulang kembali, layaknya susu yang telah diperah itu. Demikian makna Taubatan Nashuha. Wa Allah A’lam.
27 Agustus 2010
Da’wah adalah ajakan kebaikan dengan cara yang terbaik. Ia adalah upaya memberi hidayat berupa petunjuk. Hidayah seakar dengan kata hadiah. Yakni sesuatu yang seyogianya baik/bermanfaat, yang dikemas dengan indah dan diserahkan dengan lemah lembut. Sejak dini, Nabi Muhammad Saw diingatkan al-Qur’an bahwa “Sekiranya engkau berucap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” [QS Ali Imran [3]: 159].
Berucap kasar menggambarkan sisi luar manusia, dan berhati keras menunjuk sisi dalamnya. Keduanya—“berucap kasar” dan “berhati keras”–perlu disingkirkan secara bersamaan, karena boleh jadi ada yang berucap kasar tapi hatinya lembut, atau ucapannya manis tapi hatinya busuk. Yang berda’wah menggabungkan perilaku yang sopan, kata-kata yang indah, sekaligus hati yang luhur, penuh kasih–walau terhadap sasaran yang durhaka dan kejam.
Informasi yang diberikan bukan saja harus benar tapi juga bermanfaat bagi sasaran. Itulah cermin kasih dalam berda’wah. Sedang kata-kata yang indah, halus, dan lemah lembut merupakan kunci kesediaan sasaran mendengar ajakan.
Sekali lagi, ucapan harus bermanfaat bagi yang mendengarnya. Jika tidak, pengucap dan pendengarnya merugi dalam mengucapkan atau mendengarnya. Paling sedikit kerugian waktu dan energi. Bahkan boleh jadi kerugian berupa dampak yang dihasilkan apa yang didengar itu. Karena mungkin saja ucapan itu mengubah pikiran pendengarnya yang telah benar, atau memberi ide keliru padanya.
Terdapat sekian banyak tuntunan kitab suci menyangkut kriteria kata-kata yang diinformasikan, antara lain baligha [QS an-Nisa [4]: 63]. Dari sini seorang da’iy dinamai juga mubaligh. Kata itu mengandung arti sampainya sesuatu ke sesuatu yang lain dengan cukup. Seorang yang pandai menyusun kata sehingga mampu menyampaikan pesannya dengan baik lagi cukup, dinamai mubaligh. Ciri ini baru wujud bila seluruh pesan yang hendak disampaikannya tertampung dalam rangkaian kata-katanya. Tidak bertele-tele yang membosankan, tidak pula singkat yang mengaburkan. Tidak menggunakan kata yang asing di telinga pendengarnya, tidak juga berat di lidah pengucapnya.
Kata lain yang digunakan al-Qur’an untuk menyampaikan informasi yang baik adalah sadida [QS al-Ahzab [33]: 70]. Kata ini mengandung makna meruntuhkan sesuatu kemudian memperbaikinya. Ini berarti kritik yang disampaikan hendaknya disertai dengan usul perbaikan, yakni kritik haruslah yang membangun. Kata sadida juga berarti tepat. Seseorang bukan saja dituntut untuk menyampaikan yang benar dan baik susunan kalimatnya, tetapi juga harus tepat waktu dan sasarannya.
“Apabila Anda berkata kepada teman Anda pada hari Jum’at saat khatib berkhutbah: ‘Diamlah [dengarkan khutbah]’, maka Anda telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.” Ini bukan karena kandungan larangan itu salah, tetapi sasaran dan waktunya tidak tepat. Jika demikian, tidak semua harus disampaikan. Pilihlah yang bermanfaat dan perhatikan pula sasaran. Karena ada yang pandai, yang bodoh, atau anak kecil, dan dewasa. Karena itu paparkanlah mas’lah yang Anda akan informasikan kepada tuntunan agama. Kalau kandungannya sudah benar maka perhatikanlah dampaknya berkaitan dengan waktu dan masyarakat. Kalau ia tidak menimbulkan dampak negatif, maka paparkan lagi masalah itu kepada pertimbangan nalar. Kalau nalar memperkenankannya, maka Anda boleh menyampaikannya, kepada umum–atau orang-orang tertentu saja, bila penyampaian kepada umum dapat menimbulkan dampak negatif atau kesalahpahaman.
Selanjutnya ketika Nabi Musa dan Harun as menghadapi penguasa kejam Fir’aun, mereka berdua dipesan Allah: agar menyampaikan dengan Qaulaa Layyina [QS Thaha [20]: 44] yakni lemah lembut. Ini bukan berarti tidak menyampaikan kebenaran atau menyembunyikannya. Tetapi kebenaran yang disampaikan, bahkan kritik yang dilontarkan, hendaknya tidak menyinggung perasaan, apalagi menimbulkan amarah. Demikian sekelumit tuntunan al-Qur’an menyangkut da’wah yang baik. Wa Allah A’lam. <<[]
24 Agustus 2010
“Hamba-hamba ar-Rahmân Tuhan Pencurah kasih ialah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik” [QS al-Furqân [25]: 63].
Kandungan pesan di atas sejalan dengan kandungan yang pesan QS al-Isra’ [17]: 37 yaitu: “Janganlah engkau –siapapun engkau– berjalan di persada bumi penuh keangkuhan/ugal-ugalan. Itu hanya dapat engkau lakukan kalau engkau telah dapat meraih segala sesuatu, padahal meskipun engkau berusaha sekuat tenaga tetap saja kakimu tidak dapat menembus bumi walau sekeras apa pun hentakan-nya, dan kendati engkau telah merasa setinggi apapun, namun kepalamu tidak akan dapat setinggi gunung.”
Dalam konteks cara jalan, Nabi Saw mengingatkan agar tidak berjalan, membusungkan dada. Namun demikian, ketika beliau melihat seseorang berjalan menuju arena perang dengan penuh semangat dan terkesan angkuh, beliau bersabda: “Sungguh cara jalan ini dibenci Allah, kecuali dalam situasi [perang] ini.”
Kini pada masa kesibukan dan kesemrawutan lalu lintas, kita dapat memasukkan dalam cakupan pengertian ayat di atas penghormatan terhadap displin lalu lintas.
Peraturan lalu lintas jalan raya, serupa dengan peraturan lalu lintas kehidupan. Jangan pernah berkata bahwa lampu merah menghambat kelancaran lalu lintas. Ia justru memuluskannya. Karena itu sebagaimana kewajiban menghindari yang haram, maka wajib pula mengindahkan lampu merah, dan sebagaimana keharusan menaati pemimpin pemerintahan –-suka kepadanya atau tidak-– maka demikian juga keharusan mengindahkan polisi lalu lintas yang mengatur kelancaran jalan. Karena dengan membangkang, akan terjadi chaos, kekacauan dan kesemrawutan. Para polisi itu adalah bagian dari apa yang dinamai al-Qur’an Ulu Al-Amer yakni orang-orang yang berwewenang memerintah yang oleh QS dinyatakan harus ditaati [QS [an-Nisâ' [4]: 59].
Pesan-pesan ayat-ayat di atas bukan berarti anjuran berjalan perlahan, atau larangan bergerak cepat. Nabi Muhammad Saw dilukiskan sebagai berjalan dengan gesit, penuh semangat, bagaikan turun dari dataran tinggi.
Seorang pemuda dilihat oleh Sayyidina Umar r.a. berjalan melempem, tanpa semangat bagaikan orang sakit. Beliau menghentikannya sambil bertanya, “Apakah engkau sakit?” “Tidak,” jawab pemuda itu. Maka Sayyidina Umar r.a. menghardik dan memerintahkannya berjalan dengan penuh semangat.
Kalau Anda ingin memperluas makna pesan ayat-ayat di atas, maka Anda dapat berkata bahwa ia tidak sekadar menggambarkan cara jalan yang baik, tetapi juga tuntunan kepada pengguna jalan agar berinteraksi dengan semua pihak sebaik mungkin. Bukan saja memerhatikan Hak-Hak Azazi Manusia, tetapi juga dalam istilah Nabi Muhammad Saw, Hak-Hak Azazi Jalan. Jika Anda belum pernah mendengar istilah ini maka ketahuilah bahwa Nabi Saw –menggaris bawahi empat hal yang menjadi hak azazi jalan [HR Bukhari dan Muslim] yaitu a] Membatasi pandangan –-termasuk tidak memperlambat kendaraan, atau berkerumun sehingga memacetkan lalu lintas sekedar untuk melihat satu peristiwa; b] Menghindarkan gangguan, bukan saja dengan tidak membuang sampah di jalan tetapi juga –-misalnya-– tidak membunyikan klakson secara berlebihan; c] Menyebarluaskan kedamaiaan antara lain dengan bertoleransi memberi peluang mendahului bagi siapa yang memintanya. Di sisi lain berterima kasih –-walau dengan mengangguk atau mengangkat tangan kepada yang memberinya; d] Mengajak kepada kebaikan serta menghalangi kemungkaran. Butir terakhir ini mencakup banyak hal, karena memang berjalan atau mengemudi membutuhkan bukan sekedar pengetahuan tentang jalan dan berjalan, tetapi ia juga adalah seni. Dan di atas seni ada akhlak. Wa Allah A’lam. « []
20 Agustus 2010
[Renungkanlah], ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah ni’mat Allah atas kamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antara kamu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepada kamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain.” [QS 5: 20].
Kemerdekaan adalah anugerah Allah kepada setiap pribadi. Ketika salah seorang anak Gubernur Mesir menampak seorang rakyat jelata yang kemudian pergi mengadu kepada Umar Ibn Al-Khaththab ra, sang Khalifah itu mengecam Gubernurnya sambil berkata, “Sejak kapan kalian memperbudak manusia, pada hal ibu mereka melahirkan mereka sebagai orang-orang merdeka.”
Kemerdekaan bagi seseorang atau satu bangsa adalah kepemilikan wewenang dan kemampuan pengaturan, terhadap diri sebagai individu dan terhadap kelompok sebagai kesatuan masyarakat bangsa. Tapi bukan hanya itu! Abu Daud meriwayatkan sabda Nabi Saw yang melukiskan seorang merdeka sebagai “Siapa yang memiliki rumah, dan pembantu”. Tentu saja makna kata ‘pembantu ‘ harus disesuaikan dengan perkembangan masyarakat. Kini ia dapat berarti alat-alat yang membantu/mempermudah seseorang memenuhi kebutuhan-nya Dengan demikian kemerdekaan bukan sekedar wewenang dan kemampuan pengaturan tetapi juga kesejahteraan hidup
Kemerdekaan sering dipersamakan dengan kebebasan, yakni kebebasan dari penjajahan lahir dan batin, bukan kebebasan mutlak. Kebebasan mutlak mustahil bagi manusia karena ini berarti mengingkari hukum, tujuan, keinginan atau ide. Itu mustahil karena keadaan demikian, menjadikan manusia keluar dari hakikat kemanusiaannya. Mereka yang menghendaki kehidupan sebebas mungkin, dan melepaskan diri dari ikatan apapun, pasti hidupnya pun dilandasi oleh keyakinan/ide tertentu atau berusaha mencari ide/keyakinan tertentu. Usahanya itu menunjukkan bahwa ia pada hakikatnya - suka atau tak suka - menerima wewenang pengaturan yang bersumber dari keyakinan atau ide yang ada dalam benaknya. Ini berarti ia tidak bebas secara mutla.. Ia dimiliki/diatur oleh sesuatu. Karena itulah maka kebebasan mutlak tak mungkin wujud, dengan kata lain harus ada pembatasan antara lain hukum yang perlu dipatuhi. Apalagi manusia adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup tanpa bantuan pihak lain. Memang semakin sedikit kebutuhan kepada fihak lain – perorangan atau kelompok - semakin tinggi kualitas kemerdekaan
Pribadi merdeka menurut Al-Ghazali - adalah yang tidak membutuhkan kecuali Allah, dan dalam saat yang sama dia menguasai kerajaannya yakni ‘bala tentara dan rakyat’ yang dimilikinya tunduk dan taat kepadanya. Kerajaan setiap individu adalah kalbu dan wadah kalbunya; Balatentaranya adalah syahwat, amarah dan nafsunya; Rakyatnya adalah lidah, mata, tangan, dan seluruh anggota badannya. Bila semua itu dia kuasai dan tidak menguasainya, menaatinya dan bukan dia taat kepadanya, maka ketika itu ia telah mencapai tingkat kemerdekaan di alamnya.
Ketika salah seorang penguasa berkata kepada seorang arif, “Mintalah apa yang Engkau butuhkan..” Sang arif menjawab, “Apakah kepadaku engkau berkata demikian, pada hal aku memunyai dua orang hamba yang keduanya adalah tuanmu?” “Siapa mereka?” tanya sang penguasa. “Mereka adalah ketamakan dan hawa nafsu. Keduanya telah kukalahkan namun keduanya mengalahkanmu, keduanya pula telah kukuasai tetapi keduanya menguasaimu.”
Demikian juga lebih kurang halnya dengan satu bangsa. Ia harus mandiri, menguasai, dan mengatur wilayahnya, serta tidak memiliki banyak ketergantungan kepada selainnya. Masyarakatnya pun tunduk pada hukum dan peraturan. Itulah makna kemerdekaan sejati. Wa Allah A’lam. «
Tagged: kemerdekaan 17 Agustus 2010
Bulan Ramadhan diibaratkan sebagai tanah yang subur. Apapun yang Anda tabur akan tumbuh subur, kendati Anda tak menaburi lahan dengan pupuk, atau benih yang Anda tanam kurang berkualitas. Karena suburnya, sehingga kendati Anda tidak menabur, lahan itu pun akan dipenuhi alang-alang.
Ada juga yang mengibaratkan bulan suci itu sebagai bulan sale [obral] yang supermarket-nya terdapat di mana-mana, serta terbuka sepanjang saat menawarkan aneka komuditi dengan harga yang sangat sangat murah. Yang dibutuhkan untuk meraihnya hanya melangkah satu dua langkah. bahkan menampakkan keinginan pun – walau tak melangkah – dapat mengundang pemilik supermarket mengirimkan sekian banyak hadiah untuk merangsang Anda melangkah ke sana. Dalam bahasa agama, keinginan tersebut dinamai niat yang tulus untuk berbuat kebajikan.
Banyak alternatif kebajikan yang dapat dilakukan di bulan suci ini. Anda tak perlu terlalu sedih, jika salah satu yang inginkan tak dapat Anda lakukan oleh satu dan lain hal. Saudara perempuanku! Anda tidak perlu kecewa tidak berpuasa atau mengaji karena tamu bulanan mengunjungi Anda!
Namun demikian kendati banyak lapangan kebajikan mengamalkan apa yang disukai Allah dan memilih prioritas amalan, adalah sesuatu yang sangat dianjurkan walau ini bukan berarti hanya berkonsenterasi penuh dalam amalan tersebut. Dalam berinteraksi dengan Allah, meski semua menguntungkan, tidak ada istilah high atau low risk – selama memenuhi kreteria yang ditetapkan-Nya - namun bisa jadi ada situasi yang menjadikan jenis amalan tertentu lebih menguntungkan saat ini ketimbang saat lain. Di sinilah diperlukan kearifan dan perlombaan untuk saling mendahului.
Perlombaan/persaingan dalam kebajikan berbeda dengan persaingan dalam dunia bisnis. Karena apa yang terhampar di alam raya ini sangat terbatas dibanding dengan apa yang terdapat di sisi Allah. Bahkan bisa jadi dalam dunia bisnis yang diperebutkan hanya satu tanpa ganti, apalagi jika pandangan hanya tertuju kepada sekarang dan di sini. Ini berbeda dengan berinteraksi dengan Allah yang bukan saja lapangan pengabdian kepada-Nya tidak terbatas. Karena pandangan mestinya tidak hanya di sini dan sekarang tetapi juga nanti dan masa datang di akhirat sana. “Apa yang di sisi kamu akan habis/lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [QS 16: 96].
Allah memerintahkan berlomba dan bersaing dalam kebajikan [QS 2: 14]. Setelah memerhatikan sekian banyak tuntunan agama, para ulama merumuskan bahwa La Itsâra fi al-qurbah / Tidak perlu mengalah dalam hal upaya mendekatkan diri kepada Allah. Ini karena lapangan pengabdian kepada-Nya amat luas tidak terbatas. Sehingga jika Anda mempertahankan upaya pengabdian yang Anda pilih, maka pihak lain, seandainya tidak memperoleh kesempatan yang sama, masih dapat menemukan lapangan lain yang tidak kurang nilainya dengan apa yang Anda lakukan. Memang jika lapangan pengabdian tersebut oleh satu dan lain hal menjadi terbatas, sedang ia amat dibutuhkan pihak lain, maka di sini akhlak Islam menganjukan untuk memberi kesempatan atau mengalah kepadanya. Ketika itu yang mengalah akan dianugerahi - tidak kurang dari apa yang mestinya dapat ia peroleh, atau apa yang diperoleh oleh siapa yang diberinya kesempatan itu. Dan dalam saat yang sama, yang memberi dapat melakukan pengabdian lain yang tidak kurang nilainya dari apa yang direncanakannya semula. Demikian, Wa Allah A’lam. « []
13 Agustus 2010
Allah swt menganugerahi setiap manusia nafsu dan dorongan syahwat serta memperindah hal itu dalam dirinya (QS. [3]: 14), agar menjadi pendorong utama “memelihara diri” dan “memelihara jenis”. Dari keduanya lahir aneka dorongan, seperti memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, keinginan untuk memiliki, dan hasrat untuk menonjol. Semuanya berhubungan erat dengan dorongan (fithrah) memelihara diri, sedangkan dorongan seksual berkaitan dengan upaya manusia memelihara jenisnya.
Setan seringkali juga memperindah hal-hal tersebut pada diri manusia, guna melengahkan manusia dari tugas kekhalifaan. Seks, jika diperindah setan, maka ia dijadikan tujuan. Cara dan dengan siapapun, tidak lagi diindahkan. Kecintaan kepada anak, jika diperindah setan maka subyektivitas akan muncul. Bahkan, atas nama cinta, orang tua membela anaknya walau salah. Harta jika dicintakan setan, maka manusia akan menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Dia akan menumpuk dan menumpuk serta melupakan fungsi sosial dari harta itu.
Dengan berpuasa kita menyadari hal tersebut dan ini pada gilirannya menghiasi diri kita dengan kecerdasan spiritual dan emosional.
Kecerdasan spiritual melahirkan iman serta kepekaan yang mendalam. Fungsinya mencakup hal-hal yang bersifat supranatural dan religius. Inilah yang menegaskan wujud Tuhan, melahirkan kemampuan untuk menemukan makna hidup, serta memperhalus budi pekerti, dan dia juga yang melahirkan mata ketiga atau indra keenam bagi manusia.
Dimensi spiritual mengantar manusia percaya kepada yang gaib dan ini merupakan tangga yang harus dilalui untuk meningkatkan diri, dari tingkat binatang yang tidak mengetahui kecuali apa yang terjangkau oleh panca indranya menuju ke tingkat kemanusiaan yang menyadari bahwa wujud ini sebenarnya jauh lebih besar dan lebih luas daripada wilayah kecil dan terbatas yang hanya dijangkau oleh indra atau alat-alat yang merupakan kepanjangan tangan indra.
Dengan kecerdasan emosi manusia mampu mengendalikan nafsu bukan membunuhnya. Emosi atau nafsu sangat kita butuhkan, sebab dia merupakan salah satu faktor yang mendorong terlaksananya tugas kekhalifaan, yakni membangun dunia sesuai dengan kehendak dan tuntunan Ilahi. Dengan kecerdasan itu, manusia akan mampu mengarahkan emosi atau nafsu ke arah positif sekaligus mengendalikannya, sehingga tidak terjerumus dalam kegiatan negatif.
Kecerdasan emosional mendorong lahirnya ketabahan dan kesabaran menghadapi segala tantangan dan ujian. Salah satu tuntunan Rasul Saw. yang berkaitan dengan puasa adalah apabila salah seorang di antara kita berpuasa, maka janganlah dia mengucapkan kata-kata buruk, jangan juga berteriak memaki. Bila ada yang memakinya, maka hendaklah ia berucap “Aku sedang berpuasa”, yakni aku sedang mengendalikan nafsuku sehingga tidak akan berbicara atau bertindak kecuali sesuai dengan tuntunan agama. Dengan demikian, kecerdasan emosional menjadikan penyandangnya berbicara dan bertindak pada saat diperlukan dan dengan kadar yang diperlukan, serta pada waktu dan tempat yang tepat.
Kecerdasan-kecerdasan itulah yang menjadikan jiwa manusia seimbang dan menjadikannya berfikir logis dan obyektif, bahkan memiliki kesehatan dan keseimbangan tubuh. Karena, siapa yang berfungsi dengan baik kecerdasan emosi dan spiritualnya, maka akan selamat pula anggota badannya dari segala kejahatan dan selamat pula hatinya dari segala maksud buruk. Wa Allah A’lam.
10 Agustus 2010